Skip to toolbar

Kehamilan Lala di pertanyakan Kuasa Hukum Ardiansyah Lapor Balik Atas Laporan Lala.


Jakarta -vocnewsindonesia.com. Peristiwa hukum yang terjadi antara Ardiansyah dengan Laelatul Qodaria akhirnya berlanjut kepengadilan.
Kuasa Hukum Ardiansyah Jalintar Simbolon, SH, M.Hum mempertanyakan kehamilan Pelapor (Lala) dan melaporkan balik kepalsuan Lala.
Bertempat di kantor advokat Parnagogo and rekan jalan Langgar II Jagakarsa Jakarta Selatan, 26 Agustus 2018, Jalintar,SH selaku kuasa hukum Ardiansyah dengan ditemani kedua orang tua Ardiansyah, menggelar jumpa pers terkait permasalahan yang dihadapi Kliennya.
Pasalnya,lbu Lala melaporkan kejadian percumbuan putrinya dengan Ardi di kost an yang terletak Puri Serpong,Kelurahan Setu Kecamatan Setu,Tangerang Selatan.
Meski awal perkenalan mereka melalui sosial Media Facebook, berlanjut pertemuan kopi darat hingga sama-sama membuka diri.
Bahwa berusia 24 tahun mengakui belum memiliki seseorang seorang kekasih,dan sedang mencari pendamping hidup, begitu pula Lala.
Pengakuan Lala di depan Ardi sebagai wanita yang sudah pernah berumah tangga tapi kandas( Janda), artinya Lala mengakui dirinya bukan lagi anak di bawah umur.
Ardi yang polos serta lugu menerima Lala dengan apa adanya. Namun naas bagi Ardi pertemuan di tempat sewa kamar (Kost-an ) tersebut berlanjut ke proses hukum.
Pada tanggal 5 Februari 2018, Lian ibunda Lala curiga melihat perubahan pada perut Lala yang sedikit membuncit. Hingga akhirnya mereka sepakat menemui keluarga Ardi dan meminta Ardi bertanggung jawab atas kehamilan Lala.
Dalam pertemuan kedua keluarga tersebut, Ardi melalui orang tuanya siap dan bertanggung jawab jika kehamilan Lala hasil perbuatannya.
Namun, sungguh aneh, hasil visum ET REPERTUM No.445.17/14.02/RSU/Yanmed,
tertanggal 14 Februari 2018 dikeluarkan oleh Dr. Kinanti Putri Utami Sp.F, dokter Spesialis
Forensik pada RSU Kota Tangerang Selatan dengan Hasil USG (Ultra Sonografi) didapati kantong kehamilan usia kehamilan tujuh sampai delapan minggu.
Artinya, jika peristiwa hukum terjadi pada tanggal 16 Januari 2018 dan hasil visum tertanggal 14 Februari 2018 dinyatakan Dokter spesialis forensik bahwa Laelatul Codaria hamil dengan usia kehamilan tujuh (7) minggu sampai delapan (8) minggu.
Artinya secara logika dan fakta perbuatan peristiwa hukum yang terjadi tidak masuk kedalam tuduhan Ardiansyah, yang menghamili Laelatul Qodaria (Lala) yang hanya hitungan dua puluh delapan (28) hari dari tanggal peristiwa hukum ke hasil Visum.
Ditanggal 16 Februari 2018, Ardi dilaporkan ibunya Lala ke Mapolres Tangerang Selatar
No. Lp/160/K/l/2018/SPKT/Res. Tangsel. Tanggal 14 Februari 2018, dengan surat perintah penyidikan No:SP.Sidik/116/1/2018/Reskrim,Tanggal 19 Februari 2018.
Atas tuduhan melakukan tindak pidana, persetubuhan dan atau pencabulan terhadap anak
dibawah umur sebagaimana dimaksud dalam pasal 81 dan atau pasal 82 UU Ri No. 35 tahu
2014 atas perubahan UU RI No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
Didalam surat perintah penahanan tersebut ditulis berdasarkan bukti yang cukup.
Perintah penahanan yang dikeluarkan Mapolres Tangerang Selatan, dengan nomor LP / 160/K/II/2018/ SPKT/ Tes.Tangsel. tanggal 14Februari 2018, perintah penyidikan Nomor ; SP Sidik/ 116/ II/ 2018/ Reskrim, tanggal 19 Februari 2018 .
Atas tuduhan melakukan tindak pidana persetubuhan atau pencabulan terhadap anak di bawah umur sebagaimana di maksud dalam pasal 81 dan atau pasal 82 UU RI no 35tahun2002 tentang perlindungan anak.
Dalam surat perintah penahanan tersebut di tulis ” Berdasarkan bukti yang cukup.” Perintah penahanan yang di keluarkan Mapolres Tangerang Selatan sangat tidak mendasar dan tidak melihat tenggang waktu dari peristiwa hukum yang terjadi sampai di keluarkan.
Hasil ET Repertum Visum oleh Dokter spesialis forensik. Kedua, kehamilan Lala diyakin
dilakukan oleh pria lain,selain Ardi yang dilakukannya satu bulan sebelumnya.
Pertemuan dengan Ardiansyah, atau diduga adanya kehamilan palsu. Untuk itu penyidik
harus membuktikannya melalui Test kehamilan dan DNA.
Ketiga, barang bukti yang dikatakan pihak penyidik Mapolres Tangerang. dituduhkan ke Ardi. Ke empat, penyidik sudah melakukan upaya kebohongan terhadap kuasa hukum Ardiansyah, bahwa ketika olah TKP dilakukan, penyidik hanya menemui pemilik kost-an dan
memintai keterangan, namun fakta sesungguhnya penyidik membawa serta Ardiansyah ke TKP.
Kasus Ardi telah menjadi contoh kasus mozaik hukum. Ketidak pastian hukum yang menimpa Ardiansyah yang disangkakan pelaku atas pelanggaran hukum Perlindungan Anak telah
menuai kontra public, hingga menjadi catatan adanya tiga (3) variable hukum dalam kasus
ini yakni;
a. Ketidakpastian hukum
b. Ketidak profesionalan penegak hukum, dan
c. Ketidak adilan hukum.
Yang menarik dari kasus ini adalah kebohongan yang dilontarkan Lala di dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Kepolisian, bahwa Lala belum pernah menikah, sedangkan pengakuan Lala ke Ardi adalah seorang Janda.
Kebohongan Lala pun sama apa yang diucapkan dan dicatat oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) bahwa Lala belum pernah menikah.
Namun, fakta dipersidangan terungkap bahwa Lala pernah menikah dengan PARDI PAUJI alias GIMING yang tinggal di daerah Bogor. (bukti bukti foto pernikahan dan saksi-
saksi pernikahan Lala dengan Giming.
Jalintar mendesak agar kasus ini dapat dikatagorikan bahwa Lala tipe wanita yang suka bermain api dan tidak dapat dipercaya atas ucapannya.
Kami menyimpulkan sesuai bukti, data dan fakta fakta
persidangan bahwa ibunda Laelatul Qodaria (Lala) yakni Lian sebagai pelapor atas tuduhan putrinya dicabuli oleh Ardiansyah merupakan laporan PALSU. Ujarnya.
Hal itu juga telah dilaporkan
balik oleh Ahmad Fauzi orangtua dari Ardiansyah terhadap Laelatul Qodaria, Lian dan Lia
Dahlia ke Polda Metro Jaya atas tuduhan laporan Palsu terhadap Ardiansyah.
Untuk itu, saya Jalintar Simbolon, SH.M.Hum selaku kuasa hukum Ardiansyah meminta Kapolda Metro Jaya untuk mengusut tuntas atas laporan Ahmad Fauzi, dengan NomorLP/2272/IV/2018/PM/Dit.Reskrimum, tanggal 24 April 2018, serta mendesak Majelis Hakim PN Tangerang yang memeriksa perkara ini untuk tidak melanjutkan jalannya persidangan sebelum adanya Test Kehamilan yang akurat, Test DNA dan pembuktian laporan palsu saksi dibawah sumpah.
Jika apa yang dilakukan oleh Lala, Lian dan Lia Dahlia memang terbukti melakukan laporan palsu sesuai pasal 263 KUHP dan saksi dibawah sumpah (sumpah palsu) sesuai pasal 242 KUHP maka demi keadilan Ardiansyah harus di bebaskan demi hukum, dipulihkan kembali nama baiknya dan Lala serta Lia Dahlia harus segera di tahan serta menganti kerugian Materi kepada Ardiansyah. Harap Jalintar.(MNRN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *