Skip to toolbar

Djakarta Teater Platfrom Gelar Festival Teater Bertajuk "Massa diam.


Jakarta, vocnewsindonesia.com- Djakarta Teater Platform, program yang dibentuk Dewan Kesenian Jakarta sejak tahun
2016, kini kian tumbuh menjadi sebuah festival kota. Festival ini berbasis lab penciptaan,
sebuah kerja eksperimental kurasi teater.
Bentuk (festival kota) maupun pendekatan (proyek eksperimentasi kurasi teater) ini,
memang dipilih untuk mencari pertemuan lebih kekinian antara teater dan kota. Kota, selalu terkesan tergesa-gesa, karena pasar bergerak jauh lebih cepat dibandingkan dengan aktivasi kebudayaan.

Isu “massa diam” dipilih sebagai bungkusan tematik festival, memunculkan ruang antara
yang memungkinkan terjadinya “pelumeran” maupun “peredaman” titik-titik ekstrim
dalam kehidupan publik yang mudah terprovokasi oleh hoaks, viral maupun pencitraan
tanpa investigasi.
Media sosial sebagai aktivasi penyadaran akan arsip (Rokateater), larut melalui teropong penyelaman dan melihat realitas pasca-kebenaran melalui media virtual (Curious
Directive, Frogman), sejarah sebagai arsip yang hilang (Akbar Yumni), kota sebagai situs
perubahan (Teater Ash), kampung sebagai kota yang tenggelam (Teater Kubur).
mengintervensi otoritas penciptaan (Kidlat Tahimik), tubuh sebagai karet (Muda ) maupun intervensi aku biografis ke dalam sejarah pertunjukan (Fujyamaannette), merupakan berbagai bentuk penciptaan teater dalam praktek-praktek lintas media.

Para pengisi acara berasal dari Yogyakarta, Jakarta, Norwich, Hong Kong. Filipina, Kyoto
dan Tokyo. Sebagian besar kelompok ini tidak hanya pentas, tapi akan mentransformasi metode-metode penciptaan dalam berbagai lokakarya yang berlangsung dalam Djakarta
Teater Platform.
Untuk produksi wacana, juga akan berlangsung beberapa diskusi publik yang akan menghadirkan Irwan Ahmett (performance Art, periset), Yaasraf Piliang (akademisi, filsuf)
Shinta Febriany (sutradara teater), Agus Nuramal (sutradara teater). Dendi Madya (sutradara teater), Cecil Mariani (akademisi, DKV, design thinking). Dea Aulia Widyaevan
(arsitek, akademisi, performance art) dan Anggun Anggendari (aktor teater, DKV).
Diskusi akan meliputi pandangan-pandangan etis masa kini sebagai literasi digital, bagaimana membaca performatif kota dalam praktek-praktek performatif seni pertunjukan, termasuk dasar-dasar penciptaan yang mulai ikut terguncang oleh munculnya aktivasi aplikasi
berdasarkan prosedur algoritme.

Pembukaan festival dilaksanakan pada 6 September 2018 di Graha Bhakti Budaya, Taman
Ismail Marzuki. Acara dimulai sejak Agustus hingga Oktober. Festival ini berlangsung didua tempat terpisah Graha Bhakti Budaya, TIM dan Studio Tom FTV IK]. lakarta. -Minarni Djufri MP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *