Skip to toolbar

INFID menggelar Seminar Nasional SDGs tema Konsolidasi “Pemangku Kepentingan dalam Pelaksanaan dan Pencapaian SDGs di Indonesia”.


vocnewsindonesia.com -Jakarta -Kamis (20/9) Seminar Nasional dan Konferensi perss mengangkat tema “Konsolidasi pemangku kepentingan dalam pelaksanaan dan pencapaian SDGs di Indonesia”. Bertempat di Aryaduta hotel Jakarta Pusat Kamis (20/9). Hadir sebagai narasumber sumber
Hadir sebagai narasumber
Pembicara : 1. Bagus Takwin (Peneliti Utama Survei Ketimpangan INFID)
2. Odi Shalahuddin ( Ketua Yayasan Sekretariat Anak Merdeka (SAMIN))
3. Dian Aryani (Presidium Nasional KPI Kelompok Kepentingan Petani)
4. Abdul Gaffar Bappeda kabupaten Pangkajene dan Kepulauan).
5. Siti Khoirun Ni’mah (INFID)
Ketimpangan Masih Jadi Tantangan dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan untuk mendorong penurunan
penduduk termiskin lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional.
Selama tiga tahun implementasi Sustainable Development Goals (SDGa) di Indonesia, International NGO Forum on Indonesian Development (INFID mencatat persepsi warga
terhadap ketimpangan masih tinggi.

Foto ; Bagus Takwin (Peneliti Utama Survei Ketimpangan INFID).
Bagus Takwin, Peneliti INFID, mengatakan survel INFID pada 34 provinsi menyimpulkan
indeks ketimpangan meningkat dari 5,6 pada 2017 menjadi 6 pada 2018. Ini berarti warga menilai ada ketimpangan pada enam dari 10 ranah ketimpangan.
INFID secara khusus melakukan survei di tiga daerah tertinggal yaitu Kabupaten Dompu,
Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), dan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan.
Haslinya, “persepsi warga terhadap ketimpangan di dua kabupaten tertinggal yaitu di
Kabupaten Dompu, dan Kabupaten TTS lebih tinggi dari angka di nasional” ungkapnya
dalam Seminar Nasional Masyarakat Sipil Indonesia untuk SDGs yang diselenggarakan di
Jakarta pada tanggal 20 September 2018.
Bahkan warga memersepsi ada ketimpangan di 9 ranah dari 10 ranah di TTS.
Menurut Bagus, tiga sumber ketimpangan paling tinggi di tiga daerah tertinggal tersebut
adalah penghasilan, kesempatan mendapatkan pekerjaan, dan harta benda yang dimiliki
Warga di TTS juga menilai ketimpangan gender masih tinggi (79%), diikuti Dompu dengan 38% dan Kepulauan Pangkajene yang hanya 1% menilai ada ketimpangan gender.

Foto :Siti Khoirun Ni’mah (INFID).
Siti Khoirun Ni’mah, Program Manajer INFID menambahkan “merujuk hasil survei INFID
mengenai masih tingginya persepsi warga terhadap ketimpangan, dibutuhkan kerja bersama dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan untuk mendorong penurunan ketimpangan.salah satunya dengan mencapai tujuan dan target SDGs.

Foto; Dian Aryani (Presidium Nasional KPI Kelompok Kepentingan Petani)
Mengatasi ketimpangan menjadi salah satu Tujuan SDGs ke sepuluh dari 17 Tujuan yaitu,
“menurunkan Ketimpangan antar dan di dalam negara”
DSGs menargetkan penurunan ketimpangan melalui pertumbuhan pendapatan 40% penduduk termiskin lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional. Juga dengan menghilangkan segala bentuk kebijakan, hukum maupun peraturan perundangan yang diskriminatif.
Kerja bersama mencapai SDGs tercermin di dalam bekerjanya tim pelaksana DSGs, tersedianya data terpilah beserta dukungan pembiayaan untuk pelaksanaan dan pencapaian SDGs, juga melibatkan seluruh kelompok
kepentingan termasuk masyarakat yang terpinggirkan dan kelompok rentan.

Foto : Odi Shalahuddin ( Ketua Yayasan Sekretariat Anak Merdeka (SAMIN).
Odi Shalahuddin, Anggota Dewan Pengurus INFID dan Direktur Yayasan SAMIN, yang empat tahun terakhir bekerja untuk anak yang dilacurkan di lima kota melihat faktor-faktor risiko anak terjebak dalam prostitusi karena adanya suplai dan permintaan.
Faktor kunci mengapa mereka terjebak dalam prostitusi karena faktor kemiskinan.
Menurut Odi, anak-anak korban prostitusi terstigma dan tereksklusifkan sehingga makin
terjebak dalam dunia yang penuh kekerasan dan eksploitasi.
Pada konstruksi sosial yang demikian, mengubah stigma dan perlakuan diskriminatif
terhadap kehidupan anak-anak yang dilacurkan menjadi syarat utama bagi upaya menyelamatkan kehidupan anak-anak di masa depan.

Foto; Abdul Gaffar Bappeda kabupaten Pangkep.
Mengapus segala bentuk dan praktik kekerasan terhadap perempuan dan anak merupakan salah satu target SDGs di Tujuan Kelima tentang pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender.
Guna mendorong adanya kolaborasi para pihak, INFID menyelenggarakan Seminar Nasional SDGs di Jakarta pada tanggal 20 September 2018 yang dihadiri oleh 200 orang peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Tema seminar nasional adalah Konsolidasi Pemangku Kepentingan dalam Pelaksanaan dan Pencapaian SDGs di Indonesia.

Foto; Hans Farnhammer.
Melalui Seminar Nasional, diharapkan terjadi pertukaran
informasi dan pembelajaran para pihak untuk pencapaian SDGs yang inklusif dan partisipastif.( MNRN vocnews).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *