Skip to toolbar

Titik Kematian


Oleh : Dede Farhan Aulawi*
Sahabat…
Tataplah tanah pekuburan yang berada di sekitar kita
Itulah istana terindah yang kita miliki Itulah kasur terakhir yang kan kita nikmati.
Itulah tempat pasti yang kan kita huni Sudah siapkah kita untuk menghuninya ?
Siap atau tidak siap ..,pasti kita kan menghuninya.
Mungkin kita merasa belum mem-booking kavling disana
Tapi itulah keadilan Tuhan…
…bahwa otomatis setiap kita sudah mem-booking-nya
Bebas uang muka…
Tidak ada cicilan jangka panjang…
Tanpa sertifikat kepemilikan…
Tapi nama kita dipastika ada dalam daftar tunggu
Sahabat …
Saat ini hakikatnya kita sedang menunggu panggilan
…panggilan kematian tuk menghadap Sang Khalik
Dan dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatan dan ucapan
Di Mahkamah Rabbi seperti itulah kita pasti kan peroleh keadilan Meski tanpa pembela dan tekanan massa
Dan tanpa mengeluarkan uang se-rupiah-pun
Kita kan tetap peroleh keadilan
Sahabat…
Ku tatap liang lahat untuk kita sudah mulai terbuka
Gundukan tanah merah siap mengurug kita
Papan nisan sedang dipahat bertuliskan nama kita
Semua tinggal menunggu panggilan Esok…lusa…hanya soal waktu.
Sakit…kecelakaan…usia…hanya soal metode .Di rumah…kantor…klinik…hanya soal tempat
Kita tidak bisa memilihnya……karena itu soal rahasia Illahi
Sahabat…Sesungguhnya hidup tidak diukur dalam satuan waktu Usia bukanlah tolok ukur utama Kekayaan tidak bisa dijadikan alat negosiasi
Jabatan tidak bisa digunakan alat untuk menekan.
Pengalaman tidak bisa dijadikan argumen …akhirnya semua kan bermuara pada titik kematian
Tahun lalu saudara kita…
Bulan lalu tetangga kita…
Minggu lalu sahabat kita…
Esok atau lusa mungkin giliran kita, Ntah apa bekal kehidupan yang tlah kita siapkan tuk disana
Tanyakan pada nurani yang jujur…dan terdalam… (vocnews-MNRN).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *