Skip to toolbar

Refleksi Pengendalian Tembakau 2018 Kemana Jokowi Berpihak?

15-20-02-20190111_135353

vocnewsindonesia.Com – Jakarta, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Pemerintah Joko Widodo sudah 5 tahun sejak dilantiknya tanggal 20 Oktober 2014, diawal kampanyenya Jokowi menjanjikan 9 program kerja yang disebut Nawacita, Dalam nawacita ke 5- pada indikator ke 21 Jokowi berjanji akan meningkatkan 200% cukai rokok dari saat ini. YLKI menggelar acara konferensi pers dengan tema ” Kemana Jokowi Berpihak?” yang dilaksanakan di Bakoel Kaffe Cikini Jakarta Pusat. Jumat (11/1/2019).

Pada pelaksanaannya di era pemerintahan Jokowi sangat jauh dari janji Nawacita bahkan ketika BPJS sedang difisit trilyunan rupiah serta konsumsi rokok anak-anak usia 10 – 18 tahun meningkat di tahun 2018 menjadi 9,1 % dari 7,2 % di tahun 2013, juatru cukai rokok tidak naik. Padahal pengendalian konsumsi rokok yang paling efektif adalah dengan harga yang mahal agar tidak terjangkau oleh masyarakat kurang mampu dan anak-anak.

Tulus Abadi selaku Ketua Pengurus Harian YLKI mengatakan bahwa,”Angin segar nampak dihembuskan ketika kali pertama Joko Widodo menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia. Program nawacita yang menjadi andalan ketika kampanye menjanjikan perubahan-perubahan. Dalam Nawacita nomer 5 jokowi berjanji meningkatkan kualitas hidup bangsa ini melalui pendidikan dan kesehatan,”ucap tulus.

“Namun, pelaksanaan Nawacita terkait kualitas hidup bangsa dapat terganjal karena kebijakan yang tidak selaras dengan semangat nawacita. Sepanjang tahun 2018, atau bahkan potret secara keseluruhan kebijakan pengendalian tembakau di era Jokowi mengalami setbeck (kemunduran). Ini jelas menjadi ancaman serius tujuan untuk meningkatkan kualitas hidup bangsa.”tambah Tulus.

Melanjutkan paparannya Tulus memberikan opininya,”Sungguh ironis jika selama pemerintahannya, Presiden Jokowi mewariskan kondisi sumberdaya manusia yang melemah, karena tereksploitasi oleh industri rokok. Rokpk bukan hanya menggerus sisi kesehatan, tetapi juga aspek ekonomi masyarakat. Benar rokok berkontribusi terhadap pendapatan cukai, Tetapi fakta membuktikan cukai rokok tak sebanding dengan dampak eksternalitas negatif dari konsumsi rokok itu,”jelas Tulus.

“Jika menunjuk visi-misi nawacita yang menjadi GBHN-nya di era presiden Jokowi, maka masifnya konsumsi dan dampak rokok, secara diametral bertentangan dengan nawacita. Dan target Indonesia untuk pemenuhan program SDGs akan mustahil. Sebab faktanya masifnya komsumsi rokok tidak sejalan dengan hampir semua poin tujuan SDGs dominannya konsumsi rokok akan merontokkan target pemerintah untuk pemenuhan program DSGs. Tragis…”pungkasnya vocnews-MNRN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *