Skip to toolbar

lnovasi Alternatif Pongobatan Baru Untuk Ankylosing Spondylitis (AS) dan Psoriatic Arthritis (PsA)

IMG_20190321_161052

lnovasi Alternatif Pongobatan Baru Untuk Ankylosing Spondylitis (AS) dan Psoriatic Arthritis (PsA)

vocnewsindonesia.com,Jakarta -21 Maret 2019 Pada bulan Januarl 2019. Secukinumab telah mendapatkan persetujuan Badan POM untuk mongobatl Ankylosing Spondyitis (AS) dan Psriatic Arthritis (PsA). Sobelumnya. Socukinumab dinilai efektif mampu membantu pasien Psoriasis untuk mendapatkan kembali kulit yang bersih hingga 90%.

Berdasarkan laporan WHO: ‘Global Report on Psoriasis’ di tahun 2016′. sampai dengan 34.7% pasien penderita Psoriasis mengalami radang sendi kronis (Psoriasis’ Arthritis PsA) yang mengarah pada deformasi sendi dan kecacatan.

Sementara itu. AS adalah gangguan peradangan kronls yang melibatkan sendl sakroiliaka dtn tulang belakang. Hal ini terkait dengan gejala klinis yang berkaitan dangan persendian maupun
diluar persendi

Pria memilikl peluang 3 kali leblh tinggi untuk mandarita AS dlbandlngkan wanita. Penyakit ini bisa terjadi di segala usia. tap! umumnya mulai berkembang pada masa remaja atau dewasa awal (sekltar usia 20 tahunan). Hanya 5% mengalami gejala setelah umur 45 tahun.

Bebarapa alternatif penatalaksanaan yang tersadia saat inl, baik untuk AS maupun PsA. lebih banyak bertujuan untuk mamperbaikl kelainan pada postur tubuh, mencegah kecacatan meningkatkan kemampuan pasien untuk kemball beraktivitas secara normal. dan mengurang serta menekan rasa sakit dan peradangan. ‘Saat ini, jenis pengobatan yang banyak digunakan untuk menangani, baik penyakit AS maupun PsA diantaranya adalah obat-obatan non-steroid anti-inflamasi (NSAID). obat anti-reumatik (DMARDs) dan yang terbaru adalah agen biologik.

Tersedianya Secukinumab sebagai salah satu pilihan terapi agen biologik, diharapkan dapat membantu menjawab kebutuhan pengobatan pasien AS dan PsA di Indonesia agar bisa mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik,” papar Dr. Rudy.

Selain menggunakan obat untuk mengurangi serta menekan rasa sakit dan peradangan, pasie penderita AS dan PsA juga dapat melakukan terapl fisik. ‘Terapi Inl berperan panting dalam perawatan, karena dapat membantu menghilangkan rasa sakit hingga peningkatan kekuatan dan fleksibilitas. Pasien AS dan PsA dapat melakukan latihan rantang gerak dan peregangan untuk membantu menjaga kelenturan sendi, serta mempertahankan postur tubuh yang baik. Posisi tidur dan berjalan yang tepat serta olah raga perut dan punggung dapat membantu menjaga post: tubuh tegak.” ucap Dr. Rudy.

Jorge Wagner, President Director Novartis Indonesia, memaparkan komitmen Novartis Indonesia dalam meningkatkan sistem kesehatan di Indonesia, termasuk meningkatka kesadaran masyarakat seputar isu kesehatan. “Pasien adalah prioritas kami yang utama Sebagai perusahaan kesehatan inovatif, Novartis berupaya untuk terus-menerus menemuka cara baru untuk meningkatkan kualitas hidup para pasien kami melalui penyediaan obat-obata yang berkualitas, program-program edukasi kesehatan, serta menjalin kemitraan dengan piha pihak terkait,” katanya.

Novartis telah berkontribusi selama puluhan tahun di Indonesia. Melalui program Continuous Medical Education (CME), Novartis Indonesia telah berhasil melatih lebih dari 10.000 dokter dari berbagai area spesialis, dalam 3 tahun terakhir. Jorge menambahkan, ‘Guna memastikan para pasien mendapatkan akses yang lebih baik terhadap obat-obatan kami, kami telah mendaftarka 24 SKU produk kami dalam terapetik area yang berbeda ke dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Selain itu, dalam dua tahun terakhir inl, kami juga telah berhasil meluncurkan beberapa pengobatan alternatif untuk lima bidang terapi yang berbeda antara Iain adalah prolasis, gagal jantung penyakit retina. tumor neuro-endokrin, dan leukemia granulostik kronis

vocnews-MNRN