Skip to toolbar

Masuk revolusi industri 4.0, BPR Harus Tetap Eksis

IMG_20190405_114025

BPR Harus Berani Dukung Industri 4.0

KEMAJUAN teknologi informasi dan komunikasi saat ini harus bisa dimanfaatkan industri Bank Perkreditan Rakyat (BPR) agar bisa tumbuh lebih cepat dan dinamis. Seiring dengan dibukanya Program Make Indonesia 4.0 sebagai strategi RI masuk revolusi industri 4.0, BPR harus tetap eksis. 

Agar bisa tetap berada dalam pusaran kemajuan zaman, BPR perlu memanfaatkan keberadaan big data dan internet of things yang juga menjadi Pilar utama penerapan industri 4.0, sebagaimana yang dilakukan oleh bisnis rintisan atau startup financial technology (fintech). Sehingga posisi BPR tetap eksis dalam mendukung perekonomian nasional. Menutup mata akan kemajuan ini, maka BPR akan terhempas, kandas, dan karam. 

Sebagai pengingat, The Finance Institute mencatat dalam Lima tahun terakhir pertumbuhan aset BPR jauh dari menggembirakan. Sejak tumbuh 16,16% dalam setahunan pada 2014, perkembangan aset industri yang menyasar segmen usaha mikro ini semakin turun. Pada 2015 aset BPR masih mampuh tumbuh 13,17%, namun semakin terjerembab menjadi 11,59% pada 2016, kemudian 10,96% pada 2017. Tahun lalu pertumbuhannya malah semakin anjlok, sebesar 8,16% per September kemudian menjadi 7,28% per Oktober. 

Untuk itu, BPR harus berbenah. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengeluarkan aturan agar BPR memenuhi kewajiban modal inti minimal sebesar Rp6 miliar pada 2024. Peningkatan modal diharapkan otoritas bisa meningkatkan kapasitas dan daya saing industri di tengah semakin besarnya tuntutan masyarakat untuk layanan industri Keuangan yang lebih baik. 

Sementara tantangan datang bertubi-tubi di mana BPR harus head to head dengan kehadiran Lembaga Keuangan Mikro (LKM). Lalu semakin menjamurnya fintech yang juga menyasar ceruk pasar ritel dan mikro. Belum lagi bank-bank umum yang juga diuber-uber pemenuhan porsi kredit usaha Mikro, kecil dan menengah (UMKM) minimal 20% oleh regulator. 

Namun demikian, peluang bagi BPR untuk tetap eksis tetap terbuka. Pasar usaha Mikro kecil masih sangat luas. Menurut data, ada 65 juta UMKM, yang sebagian besar belum berhubungan dengan Lembaga Keuangan formal. “Jadi Masa depan BPR masih cukup cerah. Kegelisahan BPR atas kehadiran fintech, terutama layanan peer to peer lending, bisa dipahami. Namun, menurut catatan The Finance Institute, perkembangan bisnis fintech tak sehebat yang digembar-gemborkan selama ini,” tutur Direktur The Finance Institute, Eko B. Supriyanto di Jakarta, Jumat (5/4). 

Di lain sisi, kehadiran BPR di tengah-tengah UMKM sudah tidak diragukan lagi. Dan, BPR-BPR yang ada, terutama yang masuk “Top 100 BPR 2019”, mampu membuktikan ketangguhannya. 

Apalagi, hidupnya BPR di tengah masyarakat, adanya dana desa dan badan usaha milik desa (BUMDes) makin membuka kesempatan lebar itu.

“Untuk masalah pendanaan, BPR juga bisa memanfaatkan kerja sama pemberian kredit usaha (KPKU) dari bank umum yang selama ini kesulitan memberikan kredit UMKM sebesar 20%. Jadi, BPR tugasnya terus mencari nasabah kredit, dan tidak perlu terjebak pada perebutan dana yang makin mahal di masyarakat,” tutup Eko.

vocnews-MNRN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *