Skip to toolbar

BATIK Kembangkan Alternative Development Perkotaan

IMG-20190506-WA0110

*BATIK Kembangkan Alternative Development Perkotaan*

vocnewsindonesia.com, Bandung-Indonesia saat ini sudah masuk status darurat narkoba, karena korbannya menyentuh hampir seluruh lapisan masyarakat, baik dewasa, remaja, ataupun anak – anak. Jika kondisi ini terus dibiarkan maka dampak dari penyalahgunaan narkoba ini pasti akan merugikan bangsa dan generasi penerus, baik kerusakan fisik, psikis, sosial, ekonomi, budaya, keamanan dan ketahanan bangsa. Untuk itu, seluruh elemen bangsa di republik ini harus berani merapatkan barisan untuk menyatakan perang terhadap narkoba.

Berkaitan dengan hal tersebut Barisan Anti Narkotika (BATIK) telah mendesain program Alternative Development di perkotaan, yaitu sebuah program khusus untuk memberikan alternatif mendapatkan penghasilan dengan cara yang baik dan tidak melanggar hukum dan norma, yaitu memberikan pelatihan Pijat Tradisional Indonesia. Dengan demikian jika ada orang yang tadinya mengandalkan penghasilan jadi penjual, pengedar atau pengantar (kurir) narkoba, diharapkan bisa beralih profesi menjadi Terapis Pijat sesuai kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat atas pelayanan jasa pijat tradisional yang profesional.

Merespon fakta empirik seperti itu, Barisan Anti Narkotika (BATIK) kembali hadir pada hari Sabtu (4/5) dengan menyelenggarakan Pelatihan Pijat Tradisional yang profesional angkatan ke – 5. Kali ini pelatihan diikuti oleh 115 orang peserta yang datang dari berbagai daerah di Jawa Barat, bahkan ada juga peserta dari Wonosobo Jawa Tengah. Seperti biasanya tempat pelaksanaan dilakukan di Rumah Para Pecinta Ilmu (RUMPPI) yang terletak di jalan Mega Asri I no. 8 Bandung.

Dihubungi via sambungan telpon, Pembina BATIK Dede Farhan Aulawi menjelaskan bahwa program ini merupakan perwujudan dari kepedulian BATIK dalam mengurangi jumlah pengangguran dan pengentasan kemiskinan sekaligus untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. BATIK sejak awal kelahirannya memiliki cita – cita yang mulia dalam memberikan pengabdian kepada bangsa dan negara. Tanpa harus bertanya akan mendapatkan apa, tetapi terus bekerja ikhlas dalam memberikan karya buat negeri. Ujar Dede.

Selanjutnya Dede juga menjelaskan bahwa sampai saat ini alhamdulillah semua dedikasi BATIK dalam memberikan pelatihan keterampilan buat masyarakat tidak pernah memungut biaya, alias gratis. Sebagai contoh pelatihan yang sama (Pijat Tradisional) yang pernah diikutinya di dalam atau luar negeri memakan biaya jutaan rupiah, belum termasuk ongkos tiket pesawat dan hotel untuk penginapan. Tetapi di BATIK untuk pelatihan tersebut tidak dipungut biaya agar banyak peserta yang bisa ikut, sehingga mereka bisa menjadi tenaga produktif untuk bisa menghidupi diri dan keluarganya.

Apalagi seiring dengan meningkatnya turis nusantara dan turis mancanegara yang berkunjung ke objek – objek wisata di tanah air, menuntut adanya pemenuhan pelayanan jasa pijat tradisional yang profesional. Dalam bisnis tidak boleh kehilangan momentum, jadi masyarakat sejak dini harus dibekali keterampilan sehingga benar – benar siap menghadapi realitas persaingan yang semakin ketat. Peserta pelatihan tidak sekedar dibekali ilmu (teori) saja, tetapi juga prakteknya. Bahkan setelahs elesai mengikuti pelatihan harus langsung mengikuti ujian teori dan ujian praktek yang sangat ketat guna memenuhi standar kompetensi yang diinginkan. Peserta yang tidak lulus ujian, diberi kesempatan untuk mengikuti ujian perbaikan di waktu yang lain. Ungkap Dede.

Ada banyak jenis pelatihan yang sudah pernah dilakukan selama ini, seperti pelatihan keterampilan tata rias, pengelolaan koperasi profesional, motivasi wirausaha, kerajinan tangan dan lain – lain. Bahkan yang terbaru akan ada lagi pelatihan Ajudan/ ADC, pelatihan psikologi kepribadian, dan lain – lain. Intinya BATIK dan RUMPPI fokus pada peningkatan kualitas SDM Indonesia, sebab SDM merupakan kunci keberhasilan segalanya. Jelas Dede mengakhiri percakapan.
vocnews-MNRN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *