Skip to toolbar

Tabur Bunga Tragedi Berdarah Pilpres 2019

IMG_20190524_185159

vocnewsindonesia.com, Jakarta Aksi
Tabur bunga di gelar di pelataran jalan Wahid Hasyim, Sarinah sampai depan Bawaslu untuk mengenang para Mujahidin pejuang penegak Demokrasi dalam aksi 21-22 Mei yang wafat atas tragedi berdarah pilpres 2019, Jumat 24/5.

Malam 24 Mei 2019 sejumlah elemen masyarakat melakukan aksi damai memasang Karangan bunga tanda berduka cita.
Demikian bunyi pesan dalam karangan bunga yang dijejer di perempatan jalan Wahid Hasyim dan Agus Salim, Jakarta Pusat.
Sebelumnya, pada sore hari Jumat , (24/5)juga dilakukan aksi doa bersama untuk para korban yang meninggal dunia dalam aksi tanggal 21-22 Mei 2019.
Aksi doa bersama dilakukan di perempatan jalan Tamrin, Jakarta Pusat.

Sejak usainya pemilihan Umum Pilpres Tanggal 17 April 2019 lalu, Rakyat menjadi Resah Menunggu Keputusan KPU. Puncak keresahan rakyat terjadi pada tanggal 21 -22 Mei dimana KPU memenangkan 01,padahal hampir semua daerah di Indonesia memenangkan 02 (Prabowo ) tetapi terjadi kecurangan kelompok 01 (Jokowi) menipulasi semua di bantu oleh KPU.
Aksi unjuk rasa yang dilakukan pada 21-22 Mei 2019 telah menelan korban jiwa delapan orang dan ratusan orang mengalami luka-luka.

Ucapan turut berduka cita
disampaikan oleh beberapa elemen masyarakat masing-masing, Komando Barisan (KOBAR), GL PRO 08,Rumah Aspirasi Prabowo Sandi, Komunitas Anak Perantau Pontianak, Rumah Perjuangan Rakyat, Generasi Arus Bawah FKPPI, Forum Pro Demokrasi Rakyat Kalbar.

Wawan leak aktivis 80 mengutuk keras tindakan aparat yang telah melakukan tindakan kekerasan dan intimidasi yang mengakibatkan korban meninggal dunia.

Mirisnya lagi ujar Wawan, “ada korban anak dibawah umur yang meninggal akibat luka tembakan senjata api. Ini merupakan pelanggaran HAM berat dan harus ada yang bertanggung jawab ujarnya.

Sementara itu, data kepolisian, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memberikan kabar terbaru daftar korban kerusuhan yang terjadi pada 21-22 Mei di wilayah Jakarta.

“Korban yang meninggal jumlahnya 8 orang,” kata Anies di Jalan Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (23/5).

Sementara itu, 730 orang harus mendapatkan penanganan kesehatan di rumah sakit yang tersebar di Ibu Kota. “Jenis diagnosis terbanyak yang nontrauma 93 orang, luka berat 79 orang, luka ringan 462 orang, ada yang belum ada keterangan 96 orang,” tandasnya.

Ironisnya, korban sebagian besar masih remaja dan dewasa

Jadi ini kita buat semacam bentuk keprihatinan kami sebagai anak bangsa bahwa di pemilu ini banyak sekali korban baik dari petugas KPPS terus dari korban aksi demo kemarin.
Ini sesuatu yang miris yang di tengah iklim republik ini yang katanya demokrasi kita mencoba dengan berbagai elemen aliansi dari berbagai macam untuk memberikan tanggung jawab moral kami sebagai anak bangsa dengan kondisi Republik yang sangat kompleks.

Tidak ada sesuatu yang sengaja, artinya ini ada semacam by desain jadi ada yang musti bertanggung jawab tentang kejadian yang telah menelan korban jiwa pada aksi 21-22 Mei 2019. Kalau kita ngomong proses demokrasi ini kan pemilihan Pilpres 01-02 sudah bukan prosesnya lagi. Sekarang tinggal bagaimana tanggung jawab para pemuka atau elit-elit politik di Republik ini tentang kondisi republik dengan adanya korban-korban.

Sejumlah karangan bunga ucapan belasungkawa bertebaran di jln Wahid Hasyim sampai ke pelataran Bawaslu

Atas kejadian tindak pidana kekerasan ada Invisible hand dalam kasus ini harus ada yang bertanggung jawab. Panglima TNI,gagasan kita akan membentuk semacam “Crisis Center, Karena banyak sekali orang yang hilang belum ketemu.
Terus ini mesti ada investigasi ini kita mungkin akan ajak Beberapa elemen anak bangsa yang memang masih peduli dengan republik.

untuk membentuk tim investigasi banyak sekali sesuatu yang intensif bermacam-macam tuduhan Makarlah, dituduh ini itu adalah hak prerogatifnya si polisi tanpa kita diberikan hak untuk membela diri.

Kita dengan kondisi ini sekarang, kita mau nggak mau dicap Makar, mau nggak mau kita dicap intoleransi. Ini sesuatu hal yang luar biasa Pemilu saat ini.

Siapapun presidennya bagi kami nggak ada masalah cuman yang jadi masalah ini ada kecurangan yang harus menjadi tanggung jawab kaum elite kalau kita ngomong itu kan udah jelas di sana ada presiden dan juga ada mereka-mereka para elit politik.Saya melihatnya ini demokrasi Barbar,”saya aktivis 80 meminta para elit politik republik ini atau pun Siapa saja tokoh agama tokoh masyarakat mari kita duduk satu meja kita buat semacam aliansi, banyak tokoh-tokoh Kebetulan
datang seperti Mas Saiful dari Jawa Timur.tutup Wawan Leak.

vocnews-MNRN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *