Skip to toolbar

Waspada Gangguan Tiroid Kenali dan Pahami untuk Hidup Lebih Baik

1563666458118_1

Waspada Gangguan Tiroid
Kenali dan Pahami untuk Hidup Lebih Baik
Secara global, angka penderita tiroid semakin meningkat, bahkan menempati urutan kedua terbanyak dalam daftar penyakit metabolik[1]. Dan Indonesia menempati posisi sebagai negara dengan gangguan tiroid tertinggi di Asia Tenggara, yaitu sebanyak 17 juta masyarakat Indonesia mengalami gangguan tiroid.[2]

Gangguan Tiroid dapat menyerang seluruh jenjang usia dari bayi baru lahir, anak-anak hingga usia dewasa dan usia tua. Gaya hidup sehat melalui pemenuhan gizi seimbang, tindakan pemeriksaan tiroid pada ibu hamil serta skrining hipotiroid kongential (SHK) pada bayi baru lahir dapat menjadi tindakan preventif terhadap gangguan tiroid.

PT Merck Tbk dan Direktorat Promosi Kesehatan Dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI melakukan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap gangguan tiroid.

Vocnewsindonesia.com
Jakarta, 17 Juli 2019 – Dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap gangguan Tiroid, PT Merck Tbk bekerjasama dengan Direktorat Promosi Kesehatan Dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengadakan kegiatan diskusi interaktif yang bertujuan untuk mengajak masyarakat luas, khususnya perempuan di usia produktif dan ibu hamil untuk mencegah gangguan tiroid melalui gaya hidup sehat sesuai dengan program pemerintah, Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS). Acara ini dihadiri oleh lebih dari 200 peserta yang terdiri dari organisasi kemasyarakatan, lintas program di lingkungan Kementerian Kesehatan, komunitas pejuang tiroid, dinas kesehatan, karyawan dari PT Merck Tbk serta media.

Sekitar 1.6 miliar orang di dunia diperkirakan berisiko mengalami gangguan tiroid, dan sekitar ratusan juta orang hidup dengan gangguan tiroid saat ini[3]. Indonesia yang menempati posisi sebagai negara dengan gangguan tiroid tertinggi di Asia Tenggara[4], memiliki sedikitnya 17 juta masyarakat Indonesia mengalami gangguan tiroid[5]. Hampir 60% dari mereka saat ini yang hidup dengan gangguan tiroid tidak terdiagnosis, dan bisa jadi mereka berjuang sia-sia melalui kehidupan sehari-hari tanpa mengetahui akar masalah dari gejala-gejala yang mereka rasakan[6].

Dr. dr. Fatimah Eliana, SpPD-KEMD, dokter ahli endokrin menjelaskan, “Masalah kesehatan menjadi tantangan serius dan akan terus meningkat setiap tahunnya. Hal itu ditandai dengan bertambahnya kasus penyakit tidak menular termasuk gangguan tiroid. Gangguan tiroid bahkan menempati urutan kedua terbanyak dalam daftar penyakit metabolik setelah Diabetes Melitus dan banyak diderita oleh perempuan usia produktif dan anak-anak. Oleh karena itu penting bagi masyarakat untuk mengenali berbagai jenis gangguan tiroid, gejala-gejala, melakukan deteksi dini serta yang paling penting menjaga pola hidup sehat.”

Dr Andi Nanis Sacharina, SpA (K), dokter ahli endokrin anak yang turut hadir sebagai pembicara menegaskan, “Hormon tiroid pada anak-anak memiliki fungsi penting dalam perkembangan dan pertumbuhan otak pada masa emas pertumbuhannya. Gangguan tiroid pada anak dapat terjadi sejak janin dalam kandungan atau baru muncul seiring pertambahan usia. Retardasi mental akibat hipotiroid kongenital bisa dicegah jika hipotiroid kongenital terdiagnosa sangat dini dan pengobatan dimulai sedini mungkin. Oleh karena itu, tindakan pemeriksaan tiroid pada ibu hamil serta skrining hipotiroid kongential (SHK) pada bayi baru lahir dapat menjadi tindakan preventif terhadap gangguan tiroid.”

Selain itu, pemeriksaan kesehatan secara berkala dan menjaga kebersihan lingkungan penting dilakukan sebagai upaya pencegahan. Turut hadir menyatakan dukungannya dalam acara ini, dr. Riskiyana Sukandhi Putra, M.Kes selaku Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat (Promkes) mengatakan, “Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) merupakan suatu tindakan sistematis dan terencana yang dicanangkan oleh Kementerian Kesehatan dan dilakukan secara bersama untuk meningkatkan kualitas hidup. Dengan menerapkan budaya hidup sehat, diharapkan manfaat yang didapatkan berupa peningkatan kualitas kesehatan, peningkatan produktivitas masyarakat dan pencegahan berbagai jenis penyakit termasuk gangguan tiroid.”

Pada kesempatan yang sama, Evie Yulin, Direktur PT Merck Tbk mengatakan, “Merck secara berkelanjutan telah melakukan berbagai edukasi kesehatan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap gangguan tiroid di Indonesia. Kami bangga dapat kembali mendapat dukungan serta bekerjasama dengan Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Melalui Perjanjian kerjasama ini, kami akan melakukan berbagai kegiatan promotif seperti peningkatan kesadaran masyarakat terkait pola hidup bersih dan sehat, peningkatan kesadaran masyarakat terkait kesehatan kelenjar tiroid, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dalam mengenali, serta upaya preventif seperti deteksi dini dan manajemen gangguan tiroid serta peningkatan akses masyarakat untuk skrining hipotiroid kongenital (SHK).”

“Tentunya, untuk menjangkau lebih banyak masyarakat di Indonesia diperlukan dukungan dan kerjasama dengan semua pihak. Oleh karena itu, kami juga akan berkolaborasi dengan Komunitas Pejuang Tiroid Pita Tosca untuk melakukan upaya pemberdayaan masyarakat dengan memberikan edukasi mengenai gangguan tiroid ke beberapa wilayah di Indonesia. Kami berharap dengan diimplementasikannya kegiatan ini akan memberikan manfaat bagi masyarakat sehingga gangguan tiroid di Indonesia dapat menurun,” tambah Evie.

Ketua Komunitas Pejuang Tiroid, Pita Tosca – Astriani Dwi Aryaningtyas mengatakan, “Pita Tosca tentunya sangat mengapresiasi kegiatan PT Merck Tbk yang bekerjasama dengan Kemenkes untuk mendukung peningkatan kesadaran masyarakat terkait gangguan tiroid. Kesamaan visi yang kami miliki akan kami gunakan menjadi landasan dalam melakukan upaya edukasi dan pemberdayaan kepada penderita gangguan tiroid (Pejuang Tiroid) di Indonesia maupun masyarakat yang ingin mengetahui lebih banyak tentang gangguan tiroid. Hingga saat ini, kami telah telah memiliki beberapa cabang yang tersebar di wilayah Jabar- Banten, Jabodetabek, Jateng-DIY, Jawa Timur, Bali-Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Maluku-Papua, dan Caregiver Pita Tosca. Kegiatan edukasi dan advokasi tidak hanya kami lakukan di lapangan saja namun juga melalui media sosial. Kedepannya, kami berharap akan lebih banyak kolaborasi untuk mengedukasi masyarakat agar lebih peduli gangguan tiroid yang bekerjasama dengan bekerjasama dengan PT Merck Tbk maupun Promkes Kemenkes RI sehingga bisa menjangkau lebih banyak wilayah di Indonesia.”
vocnews-MNRN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *