Dede Farhan Aulawi, Prihatinkan Lunturnya Narasi Kesantunan dalam Kehidupan Berbangsa

IMG-20200119-WA0193

*Dede Farhan Aulawi, Prihatinkan Lunturnya Narasi Kesantunan dalam Kehidupan Berbangsa*
“ Manusia sebagai mahluk sosial dipastikan satu sama lain saling memerlukan dalam segala bentuknya. Format interaksi antara satu dengan yang lain diwujudkan dalam bentuk dialog, baik dialog lisan maupun dialog tulisan. Termasuk di dalamnya tulisan di berbagai media sosial, seperti whatssapp, facebook, dan lain – lain. Tentu merupakan keniscayaan, jika kita harus menghindari semua itu, termasuk penggunaan berbagai perangkat komunikasi modern. Persoalan yang muncul sesungguhnya bukan soal perangkatnya, melainkan tata cara komunikasi yang menjunjung tinggi moral dan etika sebagai bangsa yang beradab “, demikian sekilas kalimat pembuka yang disampaikan oleh Dede Farhan Aulawi saat berdiskusi ringan dengan awak media, di Bandung, Minggu (19/1).

Dede sebagai seorang Pengamat Sosial Budaya juga memprihatinkan lunturnya kesopanan dan kesantunan dalam membuat narasi – narasi empirik, verbal ataupun non verbal. Bukan hanya dari kalangan masyarakat bawah, tetapi juga kadang banyak dilakukan oleh orang – orang yang merasa datang dari kalangan atas, terdidik atau bahkan terpandang. Juga tidak mengenal usia, karena faktanya kalimat – kalimat kasar yang muncul seringkali muncul bukan hanya dari anak kecil saja, melainkan juga mereka yang merasa sudah dewasa pun melakukan hal yang sama.

Hal ini perlu menjadi bahan interospeksi sekaligus koreksi kolektif bagi seluruh anak bangsa. Indonesia selama ini dikenal sebagai bangsa yang ramah, sopan dan santun. Namun dalam faktanya seringkali kita mendengar bahasa, istilah, atau panggilan – panggilan “kiasan” yang mestinya tidak terucap dari mulut sebagai manusia yang beradab. Termasuk tulisan – tulisan yang seringkali mencemooh, mencela, menghina dan atau saling menyakiti satu sama lain. Ujar Dede.

Oleh karena itu, Dia memandang agar seluruh guru bangsa dan para orang tua turut memperhatikan dengan sungguh – sungguh melalui berbagai ikhtiar agar pendidikan kesopanan dan kesantunan sering diajarkan dan dicontohkan dalam pergaulan sehari – hari. Upaya ini pasti tidak mudah, tetapi jangan pernah lelah untuk mewariskan ketauladanan dan kesantunan. Mewariskan harta, esok atau lusa bisa sirna. Tetapi jika mewariskan budaya dan akhlaq yang luhur, akan selalu terbawa dan dikenang sebagai warisan yang mulia.

“ Sudah banyak orang yang berbahasa kasar atau orang – orang yang tidak pernah peduli dengan kerusakan akhlaq bahasa di sekelilingnya, oleh karena itu tidak perlu ditambah lagi dengan diri kita. Malah sebaliknya, kita harus tampil sebagai etalase ketauladanan di tengah masyarakat yang selalu menjaga lisan dan tulisan dengan baik. Jika ada yang berkata kasar di tengah kita, sebaiknya jangan diam dan cuek saja. Tetapi harus diingatkan bahwa itu merupakan sesuatu yang tidak pantas keluar dari mulut dan jari kaum yang konon terdidik. Sebaik – baiknya pendidikan, adalah ketauladanan yang selalu kita tunjukan. Bukan karena perintah, tetapi lahir dari lubuk hati yang mulia “, harap Dede menutup perbincangan.
vocnews-MNRN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar