Pelantikan Bupati Kabupaten Kepulauan Talaud Menuai Masalah

Talaud, Sulawesi Utara – Keputusan Menteri dalam Negeri Tito Karnavian yang telah melantik pasangan Bupati Kepulauan Talaud, Dr.Elly Lasut bersama wakil bupati Mochtar Paralaga pada hari Rabu, (26/2/2020) sangat mencederai hukum di Indonesia. Ucapan tersebut di sampaikan Heber Pasiak selaku penggugat kepada media ini di Jakarta (29/2/2020).

Heber mengungkapkan kronologis pilkada di Kepulauan Talaud yang sudah ditetapkan oleh Mahkamah Agung dengan membatalkan Keputusan Menteri Dalam Negeri nomor 131.71-3200 tahun 2014 tentang pemberhentian Bupati Talaud Provinsi Sulawesi Utara tanggal 2 Juni 2017 melalui Putusan Kasasi Mahkamah Agung RI Nomor :584K/TUN/2019.

Dengan di lantiknya Pasangan Elly Lasut – Mochtar Paralaga berarti Mendagri telah melegalkan bupati menjabat selama 3 periode. Ini sudah menjadi preseden buruk di Republik Indonesia, ujar Heber.

Pelantikan ini telah mengabaikan putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia yang telah membatalkan surat keputusan Menteri dalam negeri tahun 2017 yang menjadi syarat pencalonan seorang Bupati.

Ini memberi kesan bahwa Elly Lasut telah menjadi bupati dua periode dan ketika dia dilantik lagi menjadi bupati berarti sudah 3 periode, tegasnya.

Lanjut Heber, ada putusan PK yang nyata -nyata di hitung secara kasasi 4 tahun 2 bulan yang artinya dia sudah 2 periode. Oleh karena itu hal ini sangat mengecewakan masyarakat Talaud dan masyarakat hukum di Indonesia.

Ini sangat miris dan sangat memperihatin kan bagi kita sebagai pencari keadilan. Perlu di ketahui ELly Lasut dari 2004- 2009 menjadi Bupati 2009-2014 saya selaku pimpinan Dewan dan dalam surat pemberhentian itu ELLy Lasut di berhentikan sebagai Bupati.

Elly Lasut berpasangan dengan Constantine Ganggali memenangkan pilkada untuk masa jabatan 2009-2014 di periode keduanya. Dikarenakan Elly Lasut tersangkut tindak pidana korupsi dan resmi tersangka pada bulan Juli 2010.

Presiden RI melalui Menteri Dalam Negeri menerbitkan Keputusan nomor 131.71-626 tahun 2010 tanggal 27 Agustus 2010 Elly Lasut di berhentikan sementara dari jabatannya sebagai Bupati dan mengangkat Constantine Ganggali sebagai PLT Bupati.

Elly Lasut yang di bebaskan pada tahun 2016 selanjutnya menyurat Kemendagri dan Dirjen otonomi daerah, minta kepastian status hukumnya mempertanyakan apakah dirinya terhitung sudah menjabat sebagai bupati dua periode.

Dirjen Otonomi Daerah, Sumarsono melalui surat no :130/154/OTDA tertanggal 1 Mei 2016, menyatakan dengan tegas bahwa saudara Dr Elly Engelbert Lasut ME telah menduduki jabatan Bupati kepulauan Talaud selama dua periode. Ujar Heber.

Setelah itu dia melakukan gugatan ke PTUN kemudian banding menguatkan putusan yang menyatakan Elly Lasut sudah dua periode. Kemudian terakhir dia melakukan upaya kasasi dan itu di tolak oleh Mahkamah Agung. Jadi dari aspek hukum artinya bahwa SK 2014 itu adalah sah,dengan demikian Elly Lasut telah di berhentikan pada periode 2019 dan itu final.

Kemudian dari aspek Hukum aspek Pidana khusus masalah Korupsi di Talaud dia bukan hanya melakukan kasasi 2011 pada tanggal 2 Agustus tetapi dia melakukan namanya upaya hukum di tahun 2012 tanggal 30 Januari dan itu putus di tanggal 30 Januari 2014. Artinya dari pelantikan dari tanggal 21 Juli 2009 – 2014 dia Empat tahun 5 bulan.

Yang sangat mengecewakan, bahwa di dalam Surat Keputusan yang di terbitkan oleh Kemendagri setelah adanya kasasi di Mahkamah Agung. Dalam hal ini, Kemendagri tidak memperhatikan Pertimbangan Mahkamah Agung. Mahkamah Agung di situ benar telah mempertimbang kan keputusan PK tanggal 30 Januari 2014 dan kasasi PTUN 367/2016 dan itu sudah berkekuatan hukum tetap.

Dengan demikian saya menilai pelantikan Elly Lasut itu sarat dengan Kolusi, Korupsi dan Nepotisme oleh karena itu saya meminta kepada bapak Presiden Republik Indonesia dan bapak Mahkamah Agung untuk melihat hal ini sebagai persoalan krusial di Indonesia. Pungkas Herber

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Talaud, North Sulawesi – The decision of the Minister of the Interior Tito Karnavian who has installed the pair of Talaud Islands Regent, Dr.Elly Lasut together with the deputy regent Mochtar Paralaga on Wednesday (2/26/2020) severely injured the law in Indonesia. The remarks were conveyed by Heber Pasiak as the plaintiff to this media in Jakarta (29/2/2020).

Heber revealed the chronology of the pilkada in the Talaud Islands that had been established by the Supreme Court by canceling the Decree of the Minister of Home Affairs number 131.71-3200 in 2014 concerning the dismissal of the Regent of Talaud in North Sulawesi Province on 2 June 2017 through the Indonesian Supreme Court Cassation Decision Number: 584K / TUN / 2019.

The inauguration of the Elly Lasut – Mochtar Paralaga couple means that the Minister of Home Affairs has legalized the regent in office for 3 periods. This has set a bad precedent in the Republic of Indonesia, said Heber.

This inauguration has ignored the decision of the Supreme Court of the Republic of Indonesia which has canceled the 2017 Decree of the Minister of the Interior which is a condition for nominating a Regent.

This gives the impression that Elly Lasut has become the regent of two terms and when he is appointed regent again it means that it has been 3 periods, he stressed.

Heber continued, there was a PK decision that was clearly counted in cassation 4 years 2 months, which means he had 2 periods. Therefore this greatly disappointed the Talaud community and the legal community in Indonesia.

This is very sad and very concern for us as justice seekers. It is important to know ELly Lasut from 2004-2009 to become the Regent of 2009-2014 I as the leader of the Council and in the dismissal letter ELLy Lasut was dismissed as Regent.

Elly Lasut partnered with Constantine Ganggali to win the elections for the 2009-2014 term in his second term. Because Elly Lasut was involved in a criminal act of corruption and was officially named a suspect in July 2010.

The President of the Republic of Indonesia through the Minister of Home Affairs issued Decree number 131.71-626 of 2010 dated August 27, 2010 Elly Lasut was suspended from his position as Regent and appointed Constantine Ganggali as PLT Regent.

Elly Lasut, who was released in 2016, then corresponds with the Ministry of Home Affairs and the Director General of regional autonomy, asking for certainty about her legal status, questioning whether she has served as regent for two terms.

The Director General of Regional Autonomy, Sumarsono through letter no. 130/154 / OTDA dated May 1, 2016, stated emphatically that brother Dr. Elly Engelbert Lasut ME had held the position of Regent of the Talaud islands for two periods. Heber said.

After that he filed a lawsuit to the Administrative Court and then the appeal strengthened the decision which stated Elly Lasut had two periods. Then finally he made an appeal and was rejected by the Supreme Court. So from the legal aspect it means that the 2014 decree is valid, thus Elly Lasut was terminated in 2019 and it was final.

Then from the Legal aspect of the Criminal aspect specifically the problem of Corruption in Talaud he not only did a 2011 appeal on 2 August but he did his name in 2012 in January 30 and it broke on 30 January 2014. It means from the inauguration of 21 July 2009 – 2014 he was Four years 5 months.

What is very disappointing is that in the Decree issued by the Ministry of Home Affairs after an appeal in the Supreme Court. In this case, the Ministry of Home Affairs does not pay attention to the Supreme Court Considerations. The Supreme Court there was right to consider the PK decision on 30 January 2014 and the appeal of PTUN 367/2016 and it was legally binding.

Therefore, I consider Elly Lasut’s inauguration to be full of collusion, corruption and nepotism, therefore I ask the President of the Republic of Indonesia and the Supreme Court to see this as a crucial issue in Indonesia. Concluded Herber
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

北蘇拉威西省塔拉市-內政部長Tito Karnavian的決定於週三(2/26/2020)安裝了一對塔拉德群島攝政王Elly Lasut博士和副攝政長Mochtar Paralaga,這一決定嚴重損害了印度尼西亞的法律。言論由原告Heber Pasiak轉達雅加達的該媒體(2020年2月29日)。

Heber透露了塔拉德群島上pilkada的年代,這是最高法院在2014年取消內政部長法令(第131.71-3200號)的法令,該法令於2017年6月2日通過印度尼西亞最高法院撤銷原判號:584K / TUN / 2019撤銷了北蘇拉威西省塔拉德攝政王。

Elly Lasut-Mochtar Paralaga夫婦的就職典禮意味著內政部長已將攝政王合法化了三個時期。希伯說,這在印度尼西亞共和國開了一個不好的先例。

這項就職典禮無視印度尼西亞共和國最高法院的決定,該決定取消了2017年內政部長法令,這是提名攝政王的條件。

他強調說,這給人的印像是Elly Lasut曾擔任過兩個任期的攝政王,當他再次被任命為攝政王時,這意味著已經有三個任期。

Heber繼續說,有一個PK決定明顯地被判處了4年2個月的判決,這意味著他有2個時期。因此,這使印尼的Talaud社區和法律社區大為失望。

作為尋求正義者,我們感到非常悲傷和關切。重要的是要知道從2004年至2009年的艾莉·拉蘇特(Elly Lasut)成為2009-2014年我的攝政王,成為安理會的領導人,並且在免職信中,埃利·拉蘇特(ELLy Lasut)被解僱為攝政王。

艾莉·拉蘇(Elly Lasut)與君士坦丁·甘加利(Constantine Ganggali)合作,在他的第二任期贏得了2009-2014年選舉。因為Elly Lasut參與了腐敗犯罪行為,並於2010年7月被正式任命為犯罪嫌疑人。

印度尼西亞總統通過內政部長於2010年8月27日發布了2010年第131.71-626號法令,埃爾利·拉蘇特(Elly Lasut)被中止了擔任攝政王的職務,並任命康斯坦丁·甘加利(Constantine Ganggali)為PLT攝政王。

於2016年獲釋的Elly Lasut隨後與內政部和區域自治總幹事聯繫,要求確定其法律地位,並質疑她是否曾擔任過兩個任期的攝政官。

Sumarsono地區自治總幹事在2016年5月1日的第130/154號/ OTDA信中著重指出,兄弟Elly Engelbert Lasut ME博士曾在塔拉德群島攝政地區擔任過兩個職位。希伯說。

此後,他向行政法院提起訴訟,然後上訴加強了判決,該判決稱Elly Lasut有兩個期限。然後,他終於提出上訴,並被最高法院駁回。因此,從法律角度講,這意味著2014年法令有效,因此Elly Lasut在2019年終止,這是最終決定。

然後從刑事方面的法律方面,特別是塔洛德的腐敗問題,他不僅於8月2日提出了2011年上訴,而且於2012年1月30日提出了自己的名字,並於2014年1月30日破裂。這意味著從2009年7月21日就職典禮開始-2014年,他是四年5個月。

令人非常失望的是,內政部在最高法院上訴之後發布的法令。在這種情況下,內政部不關注最高法院的考慮。最高法院有權審議2014年1月30日的PK裁決以及PTUN 367/2016的上訴,該裁決具有法律約束力。

因此,我認為Elly Lasut的就職典禮充斥著共謀,腐敗和裙帶關係,因此我請印度尼西亞共和國總統和最高法院將其視為印度尼西亞的關鍵問題。結論赫伯

vocnews-MNRN.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*