Skip to toolbar

Masa Depan Ekonomi Global perubahan teknologi, transformasi digital dan pengembangan kecerdasan buatan

IMG-20190917-WA0161

CSIS Global Dialogue
Vocnewsindonesia.com
Jakarta , Senin 16 September 2019. Perdebatan terkait dampak dari revolusi teknologi digital seakan tidak ada habisnya untuk diperbincangkan. Salah satu contohnya adalah teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence), yang memungkinkan mesin dalam bentuk robot humanoid untuk dapat bekerja, belajar dan berinteraksi secara otomatis dengan mesin dan robot lainnya maupun manusia. Perkembangan teknologi ini akan berdampak besar bukan hanya terhadap perekonomian saja tetapi juga kehidupan sosial, prinsip-prinsip kemanusian dan etika, serta formulasi kebijakan.

Untuk membahas potensi dampak dari perkembangan teknologi ini serta penanggulangannya, Centre for Strategic and lnternational Studies (CSIS) mengangkat tema ”Harnessing Frontier Technologies through a Redesigned National, Regional and Global Architecture Memanfaatkan Teknologi Termutakhir melaiui Pendesainan Ulang Arsitektur Nasional, Regional dan Global” dalam CSES Global Dialogue tahun ini.

Acara ini akan membahas salah satu faktor yang paling menentukan dalam membentuk masa depan ekonomi global. yaitu perubahan teknologi, dalam kaitannya dengan transformasi digital dan pengembangan kecerdasan buatan.

CSIS Global Dialogue merupakan sebuah konferensi tahunan yang diselenggarakan melalui kolaborasi dengan Pacific Economic Conference Council (PECC), sebuah jaringan individu dan institusi yang didedikasikan untuk mempromosikan kerjasama di 23 negara di kawasan Asia Pasifik.

Konferensi yang diadakan dalam dua hari ini membahas dalam diskusi panel empat topik sebagai berikut: (i) implementasi teknologi saat ini dan masa depan dalam bisnis, ekonomi dan sektor publik, (ii) implikasi terhadap produklivitas ekonomi, sifat pekajaan dan inklusi sosial-ekonomi , (iii) pendekatan baru terhadap kebijakan ekonomi dan pemerintahan, dan (iv) bagaimana kolaborasi regional dan integrasi ekonomi regional dapat memfasilitasi perumusan kebijakan untuk teknologi masa depan.

Seiain dihadiri oleh pakar teknologi dan ekonomi terkemuka secara intemasional. acara kali ini juga menampilkan teknologi kecerdasan buatan dengan mengundang Sephia atau yang populer dijuluki ”robot paling cerdas” sebagai salah satu pembicara utama.

Acara dilanjutkan dengan sesi diskusi pleno pertama dengan topik yang membahas mengenai: Gambaran Besar dalam Perkembangan Teknologi Terkini. Sesi ini dimulai dengan pidato utama oleh Luke Hutchison, Ahli ilmu Komputer dan Biologi Komputasi dari TFD Fellow. Hutchison menjelaskan bahwa sekarang kita semakin dekat dengan apa yang disebut ‘teknologi singularitas’. yaitu: ketika komputer super cerdas menawarkan ledakan kecerdasan yang tidak memberikan ruang. bagi intervensi manusia. la menjelaskan bahwa kecerdasan buatan akan menjadi lebih kuat dan lebih pintar daripada manusia karena pertumbuhan produktivitas diekspektasikan akan tumbuh

secara eksponensial, di mana ini bertentangan dengan fakta pertumbuhan Kaldor. Ada dua skenario yang mungkin muncul di masa depan berdasarkan Korinek & Sliglitz (20l7), yaitu peningkatan manusia di mana manusia dan kecerdasan buatan akan bergabung dan munculnya agen-agen kecerdasan buatan yang otonom.

Pembahas dalam sesi ini adalah Wojtek Krok, Partner dari McKinsey yang menjelaskan bagairnana perkembangan teknologi telah mengubah model industri dan bisnis dalam praktik usaha. Lalu lmron Zuhri, dari Dattabot Indonesia menjelaskan mengenai aplikasi Big Data, Blockchain, dan kecerdasan buatan di negara-negara berkembang. Pembahas terakhir adalah Jake Lucchi, Kepala Konten dan Kecerdasan Buatan dari Google Asia Pacific.

Selanjutnya pada sesi kedua, Profesor Ekonomi Universitas Geneva, Swiss, Richard Baldwin membahas dampak revolusi yang sedang dan akan terjadi terhadap perekonomian global, utamanya dalam bagaimana investasi dan perdagangan inlernasional turut berevolusi. Perdebatan saat ini menyoroti persoalan dampak revolusi teknologi terhadap pertumbuhan ekonomi, pekerjaan dan aspek sosial-ekonomi lainnya, seperti ketimpangan pendapatan.

Pembahas dalam sesi kedua ini adalah Michael Fung, Deputy CEO SkillsFuture SG yang menjelaskan tentang nasib pekerjaan di masa depan. Selain itu, Direktur TRPC Peter Lovelock dan CEO GDP Labs On Lee juga berbicara pada sesi panel ini.

Selain berdampak pada perekonomian, teknologi yang semakin terintegrasi dengan kehidupan manusia memunculkan perdebatan mengenai keamanan dan privasi individu. Beberapa kejadlan seperti skandal Cambridge Analyca dan pencurian digital pada platform mata uang digital (cryptocurrcncy) meningkatkan kesadaran akan ancaman dari penggunaan teknologi Maka dari itu, pada sesi pleno ketiga Direktur Eksekutif Japan Machinery Center for Trade and Investment Tetsuro Fukunaga memaparkan tentang persoalan tata kelola data.

Pembahas pada sesi ketiga ini adalah Sunny Park dari Microsof Asia yang berbicara soal etika dalam penggunaan teknologi. Duta Besar Uni Eropa untuk Asia, Igor Driesmans yang membahas soal privasi secara mendalam. dan Doug Wilschi dari International Police yang berbicara soal keamanan digital.

Acara CSIS Global Dialogue ini dilanjutkan dengan konferensi hari kedua. yaitu: haru Selasa, tanggal 17 September 2019.

Presiden Joko Widodo akan hadir dan membuka acara pada hari kedua ini dengan melakukan dialog Sophia Robot.

Acara pada hari kedua ini, akan di lanjutkan dialog dengan membahas tiga tema besar yakni Persiapan transisi menuju intelligent economy Perdagangan dan Inventasi di era digital, dan Pajk dalam digital ekonomi.

vocnews-MNRN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *