Skip to toolbar

Ada Apa Dengan JPU Tahan Berkas Dakwaan Meski Penasehat Hukum Sudah Minta Melalui Hakim?

Screenshot_20210204_213248

*Ada Apa Dengan JPU Tahan Berkas Dakwaan Meski Penasehat Hukum Sudah Minta Melalui Hakim?*

_JPU Diduga Main Mata Dengan Lawyer Pelapor Deepak_

IMG-20200326-WA0002

Vocnewsindonesia.com – Sidang ketiga perkara ANA pada Rabu (3/2) siang di PN Jakarta Utara berlangsung seru. Hadir Hartono Tanuwijaya sebagai saksi pihak Deepak yang merasa dirugikan sebesar Rp. 4 miliar atas cek kosong yang diberikan oleh ANA dalam transaksi perantaraan jual beli sebidang tanah di bilangan Tebet, Jakarta Selatan.

Berawal pada 2014 saksi Hanes Jatiani mengajak terdakwa Abdullah Abdullah Nizar Assegaf untuk bertemu dengan saksi korban Deepak Rupo Chugani dalam rangka menawarkan tanah eks SPBU yang berada di Jalan Prof. Soepomo nomor 49 Tebet, Jakarta Selatan atas nama pemilik tanah saksi RR Sri Suharno Iskandar yang mana sertifikat tersebut dalam proses pengurusan dari pemilik sebelumnya.

Tanah tersebut dijual dengan kesepakatan harga Rp. 16 miliar. Dan tegasnya terdakwa menjanjikan dapat mengurus surat sertifikat tersebut dengan memberikan copy atas surat sertifikat atas nama RR Sri Suharni Iskandar yang sedang diurus Terdakwa di Kantor Badan Pertahanan Nasional Jakarta Selatan (BPN JAKSEL) dan Terdakwa juga memberikan surat pernyataan dan jaminan setiap uang diberikan oleh Saksi korban sebagai cek jaminan.
Selanjutnya, Deepak Rupo Chugani menyetujui dengan catatan apabila saksi korban mengeluarkan uang biaya pengurusan sertifikat maka terdakwa Abdullah Nizar Assegaf wajib menyerahkan cek sebagai jaminan (counter cek).

Sekira Pebruari 2017 saksi korban melalui kuasa hukum, yaitu saksi Hartono Tanuwijaya SH mengirimkan surat somasi kepada terdakwa perihal teguran atas 3 (tiga) lembar cek yang tidak dapat dikliring telah ditutup, kemudian terdakwa merespon surat somasi dari saksi Hartono Tanuwijaya SH tersebut.
Selanjutnya Deddy Prihambudi sebagai utusan dari terdakwa Abdullah Nizar Assegaf datang ke kantor saksi Hartono Tanuwijaya SH menjanjikan akan menyelesaikan masalah tersebut secara Kekeluargaan.

Saksi korban melalui kuasa hukumnya yakni saksi Hartono Tanuwijaya SH mengirimkan surat somasi tertanggal 14 Juli 2017 dan tanggal 07 Agustus 2017, namun surat somasi tersebut tidak mendapat respon dari terdakwa Abdullah Nizar Assegaf.

Kemudian karena merasa ditipu oleh terdakwa, maka saksi korban melalui kuasa hukumnya melaporkan perbuatan tersebut ke Polres Jakarta Utara guna pemeriksaan lebih lanjut.

Bahwa atas kejadian tersebut sisi korban Deepak Rupo Chugani mengalami kerugian uang Rp. 4.000.000.000 (empat miliar rupiah).atas perbuatan terdakwa tersebut sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 378 KUHP.

Penasehat Hukum Ir. Tonin Tachta Singarimbun SH menanyakan kepada saksi Hartono, hubungan kerja dengan Deepak sejak kapan hingga menanyakan adakah saksi korban tahu adanya perjanjian baru terkait upaya terdakwa untuk mengembalikan uang yang dilaporkan oleh Deepak.

Bukan itu, Tonin dengan Presisi bertanya adakah Deepak pernah atau suka membeli tanah yang punya masalah? Pertanyaan ini penting mengingat pelapor yang diduga terindikasi melakukan pelanggaran, maka tidak berhak mendapatkan Perlindungan hukum.

“Yang Mulia Majelis hakim, kami minta melalui Majelis Hakim agar JPU dapat memberikan berkas dakwaan yang lebih lengkap dari yang ada saat ini. Namun demikian, meski kami mengalami kesulitan untuk merangkai pembelaan untunglah kami bisa memahami materi permasalahan yang dihadapi oleh klien kami, ” pinta Lawyer Ir Tonin Tachta Singarimbun SH, sebagai Tim Kuasa Hukum dari Abdullah Nizar Assegaf.

Sementara itu di luar persidangan anggota Tim Penasehat Hukum yang mengamati persidangan dimintai komentar nya oleh awak media massa.
“Malang benar nasib Abdullah Nizar Assegaf, pria kelahiran Malang 17 Maret 1975 ini bila dituduh sebagai penipu dengan dakwaan pasal 378 KUHP,” kata Suta Widhya SH usai persidangan.

Dirinya menduga antara saksi dan JPU “bermain mata” Sehingga pihak Penasehat Hukum dari Andita’s Law Firm yang membela kliennya Abdullah Nizar Assegaf menjadi kesulitan. Sidang dilanjutkan pada Rabu (10/2) depan pukul 14 siang di Pengadilan Negeri Jakarta Utara.

IMG-20200326-WA0007
Arnyvocnews

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *