Lewat ke baris perkakas

GPP dan DBTI Merayakan Peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni, HUT GPP ke-3 dan HUT DBTI ke-5 Secara Bersama

IMG_20220601_130908

GPP dan DBTI Merayakan Peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni, HUT GPP ke-3 dan HUT DBTI ke-5 Secara Bersama

Jakarta, 1 Juni 2022-  HUT ormas Gerakan Pembumian Pancasila (GPP) yang ke-3 dan HUT Dokter Bhineka Tunggal Ika (DBTI ) ke-5 digelar bersama peringatan I Juni hari  lahir Pancasila ke-77 bertempat di gedung Stovia, Jakarta, 1 Juni 2022.

Peringatan HUT diselenggarakan Sarasehan Kebangsaan bertemakan: “Strategi Membumikan Pancasila sebagai Upaya Progresif Mencegah dan Menangkal Deideologisasi di Bumi Pertiwi Indonesia” dengan Keynote Speaker Ketua Dewan Pembina DPP GPP Prof. Dr. Hariyono, M.Pd. yang juga menjabat sebagai Wakil Kepala BPIP. dan Ketua Umum DPP GPP Dr. Antonius D.R. Manurung, M.Si, dengan para pembicara masing-masing, Daldiyono sesepuh  DBTI,dr.Putu Moda Arsana, SpPD, K-EMD, FINASIM selaku perintis DBTI dan Ketua Konsil Kedokteran Indonesia, Hakim Mahkamah Konstitusi Prof. Dr. Arief Hidayat, SH, MS, Pemerhati Pancasila/Ketua Ikatan Alumni UI Andre Rahardian,SH, LL.M, M.Sc, Pemerhati Pancasila/Ketua KAGAMA, Ganjar Pranowo, S.H, M.I.P dan Dr. Bondan Kanumoyoso, M.Hum Sekretaris Jenderal DPP GPP/Sejarawan.

Acara dimulai dengan sambutan pembukaan oleh sesepuh DBTI Prof.Dr. dr. Daldiyono, SpPD-KGEH dilanjutkan laporan ketua Panitia Dr. dr. Yosephin Sri Sutanti, MS, Sp. Ok, dengan MC dr.Joyce Sopacua dan moderator acara dr.Midi Haryani, SpKK, FINSDV, MARS.

Prof. Dr. Hariyono, M.Pd. mengatakan,1 Juni 1945 sebagai Hari Kelahiran Pancasila memiliki bukti historis yang dapat dipertanggung jawabkan’ . Namun 1 Juni 1945 tidak dapat dilihat sebagai suatu episode yang terpisah dari perjuangan bangsa dan tidak dapat ditafsirkan secara segmentatif; tanpa memahami sosok Bung Karno kita tidak dapat memahami Pancasila.

Ketua Umum DPP GPP Dr. Antonius  D.R. Manurung, M.Si. mengatakan ” Kami dari GPP ingin mengobarkan kepada seluruh rakyat Indonesia dan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila supaya menempatkan Marhaenisme sebagai akar historis Pancasila.” Sebab menurutnya, tanpa Marhaenisme kita tidak bisa memahami Pancasila. Pancasila 1 Juni adalah Sosio Nasionalisme, Sosio Demokrasi, Ketuhanan Yang Maha Esa yang kemudian Bung Karno katakan; Kebangsaan, Prikemanusiaan, Demokrasi, Kesejahteraan Sosial dan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Lebih lanjut Anton Manurung menjelaskan, bahwa Pancasila sebagai ideologi Terapan dan Terapan Ideologi. Pancasila bisa menjadi ideologi terapan kalau Marhaenisme dijadikan akar historis Pancasila, dan dalam diskursus ideologi Pancasila yang diadakan GPP sampai angkatan ke 5 diajarkan bagaimana ideologi terapan dan terapan ideologi bisa diwujudkan agar menjadi pedoman hidup bagi seluruh rakyat Indonesia, ujar Dosen Psikologi UMB ini.

Tokoh Sejarah Indonesia Dr. Bondan Kanomoyoso dalam sambutannya mengatakan ” Pancasila jangan hanya dilihat dari kelahirannya pada Pidato 1 Juni 1945, tapi sebenarnya Bung Karno sudah memikirkannya jauh sebelumnya dan terus berproses sejak masih di Bandung.” Menurutnya, Pancasila lahir dari keprihatinan bangsa Indonesia pada waktu itu. Pancasila bukan lahir dalam semarak gegap gempita, melainkan dari keprihatinan rakyat. Tanpa pemahaman yang utuh mengenai lahirnya Pancasila maka dapat terjadi disorientasi, tutur Sekjen DPP GPP yang juga adalah Dekan FIB UI ini.

Guntur Soekarno mengatakan bahwa Pembumian Pancasila harus diartikan sebagai upaya menjadikan Pancasila sebagai “way of life” dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ditambahkannya, “Menurut Bung Karno Pancasila merupakan meja statis dan dinamis; sebagai meja statis, merupakan tempat di mana di atasnya terdapat wilayah negara Indonesia, sedangkan meja dinamis adalah Pancasila sebagai dasar ke mana bangsa dan negara Indonesia menuju yaitu masyarakat sosialis religius yang berketuhanan.”

Hakim Mahkamah Konstitusi Arief Hidayat dalam sambutannya mengatakan ” Pancasila diucapkan Soekarno dalam sidang BPUPK saat ditanya oleh para anggota mengenai apa dasar negara kita. Dalam pidatonya Sukarno menyampaikan setelah sebelumnya sejumlah anggota BPUPK memberikan pandangan-pandangannya. Sukarno merumuskan konsep dengan memperhatikan dan mengamati secara cermat dan menggali nilai-nilai luhur bangsa yang hidup di bumi Nusantara dan juga memperhatikan pandangan para anggota BPUPKI sebelumnya dengan gagasan-gagasan yang sangat ideologis yang disampaikan secara komprehensif mengenai dasar negara apa yang akan dipakai.

Merunut sejarah pembentukan Pancasila di masa menjelang kemerdekaan Indonesia 1945, konsep Trisila dan Ekasila disampaikan oleh Presiden Soekarno sebagai alternatif Pancasila yang ditawarkannya.

Saat itu, lima dasar negara yang disampaikan Soekarno dalam sidang BPUPKI 1 Juni 1945 adalah:
1. Kebangsaan Indonesia
2. Internasionalisme atau perikemanusiaan
3. Mufakat atau demokrasi
4. Kesejahteraan sosial
5. Ketuhanan yang Maha Esa
Soekarno menjawabnya secara tuntas dan prinsip pandangan dirangkai dalam pidato secara filosofi ‘grondslag weltanschauung’, ujar Arief Hidayat.

dr. Putu Moda Arsana, Sp.PD, K-EMD, Finasim perintis Dokter Bhineka Tunggal Ika/ Ketua Konsil Kedokteran Indonesia dalam pengantarnya mengatakan, Big data harus dikuasai oleh pemerintah. Sebab dengan big data kita bisa mengetahui data pribadi seseorang termasuk bagaimana DNAnya. Kalau DNA seseorang diketahui, maka secara medis dapat dibuatkan obatnya. Makanya peran pemerintah sangat dibutuhkan untuk melindungi data pribadi setiap warga negara Indonesia. Saat ini dengan berkembang begitu pesatnya teknologi membuat Hukum kita terlihat sangat lambat mengikuti teknologi yang sangat cepat berkembang, ujarnya.

Ganjar Pranowo selaku Ketua Alumni UGM, (KAGAMA) mengatakan bahwa pembumian Pancasila berarti harus berani dan tidak ragu terhadap kaum radikal yang hendak mengganti Pancasila. Selain itu perlu pula disertai contoh teladan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

Ketua Ikatan Alumni UI Andre Rahardian,SH, LL.M, M.Sc dalam pengantarnya mengatakan ” Kita sadari dan kita tahu bersama manusia sebagai makhluk sosial butuh masuk dan diterima dalam sebuah kelompok untuk dapat diterima dan menyatu dalam sebuah kelompok tadi atau grup kita butuh kesamaan yang berangkat dan akhirnya menjadi satu identitas bersama, baik itu bahasa sebelum kemerdekaan untuk bersatu menjadi satu bangsa bangsa Indonesia. Tepatnya pada tanggal 28 Oktober 1928 para pemuda membuat 1 sumpah sumpah pemuda, ketika kita berpikiran bahwa kita memutuskan untuk memiliki bangsa,memiliki bahasa dan tanah air yang satu yakni Indonesia. Sejak itulah kita menjadi warga bangsa Indonesia dan telah menjadi suatu identitas bersama identitas ini mungkin dilengkapi dengan sebuah pondasi dalam berbangsa dan bernegara oleh Para founding fathers kita tak lama sebelum hari kemerdekaan tepatnya pada tanggal 29 Mei sampai dengan periode 1 Juni 1945, ketika merumuskan poin dasar yang kemudian saat ini sebagai Pancasila yang merupakan pilar ideologi bangsa yang menjadi panduan kita untuk menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara”.

Pancasila menjadi suatu jati diri bangsa yang mengantarkan kita mencapai tujuan dari negara Indonesia tersebut juga menjadi tujuan dari bangsa kita sendiri dalam melakukan pelaksanaan pembangunan yang saat ini kita lakukan. Identitas bersama menjadi kebutuhan para pendahulu kita hari ini Indonesia juga sangat membutuhkan identitas bersama untuk dapat berbagi mengatasi berbagai ancaman dan tantangan kesempatan dan bergerak lebih efektif dan efisien dalam bangsa menciptakan kesejahteraan dan keadilan di Republik Indonesia kita cintai ini.

Acara yang dihadiri sekitar 200 orang secara off line juga diikuti oleh 24 perwakilan DPD GPP seluruh Indonesia yang mengikuti secara daring sejak pembukaan sampai berakhirnya acara pada jam 15.00 wib dengan ditutup oleh doa dan paduan suara Gabrella yang membawakan lagu-lagu perjuangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *